Jakarta — Menteri Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Menekraf) Teuku Riefky Harsya mendorong kolaborasi antara sektor properti, perbankan, dan pelaku ekonomi kreatif untuk membuka akses pasar bagi perempuan di desa. Pernyataan itu disampaikan menyusul penerimaan penghargaan pada ajang Indonesia Property & Bank Award (IPBA) dan audiensi antara Kementerian Ekonomi Kreatif dengan penyelenggara sektor properti pada 7 September 2026.

Kolaborasi industri properti dan ekraf buka akses pasar bagi perempuan desa

Menurut pernyataan resmi Kementerian Ekonomi Kreatif, jejaring pengembang properti dan lembaga keuangan dapat menjadi pintu masuk untuk memasarkan karya kreatif desa — termasuk produk kriya, desain interior, dan arsitektur skala kecil — ke dalam proyek-proyek properti atau kanal distribusi yang lebih luas. Inisiatif ini juga menyasar kelompok seperti Srikandi Jaga Desa, yang mengorganisir perempuan desa untuk pengembangan produk dan kapasitas usaha.

Beberapa media nasional melaporkan bahwa pembicaraan meliputi peluang konkret seperti penempatan karya kriya pada kawasan perumahan, penggunaan produk lokal dalam desain interior proyek, serta mekanisme pembiayaan yang memudahkan pelaku kreatif desa mengakses modal dan layanan perbankan. Pernyataan pemerintah menekankan pentingnya edukasi tentang perlindungan kekayaan intelektual dan standar produk agar karya kreatif siap masuk pasar yang lebih formal.

Dari sisi penyelenggara acara dan asosiasi properti, dorongan ini dinilai membuka ruang usaha baru sekaligus memperkuat nilai tambah proyek properti melalui identitas lokal. Untuk pelaku ekonomi kreatif di desa, kolaborasi lintas sektor tersebut berpotensi meningkatkan permintaan, membuka jalur penjualan B2B, dan memperbesar peluang masuk ke rantai pasok proyek properti berskala menengah hingga besar.

Meski peluang terbuka, langkah nyata yang perlu diperhatikan antara lain: peningkatan mutu dan konsistensi produk; dokumentasi portofolio dan sertifikasi sederhana; kapasitas produksi yang dapat memenuhi permintaan proyek; serta pembekalan tentang hak kekayaan intelektual dan kontrak kerja sama. Tanpa persiapan ini, produk lokal berisiko tidak memenuhi persyaratan pasar formal atau tidak mendapatkan nilai jual yang optimal.

Apa yang perlu dipersiapkan UMKM dan pelaku kriya desa

  • Standarisasi kualitas dan foto produk profesional untuk katalog B2B.
  • Pembuatan portofolio digital yang menonjolkan proses produksi dan nilai budaya/cerita di balik produk.
  • Pemetaan kapasitas produksi dan rencana skala jika permintaan proyek meningkat.
  • Pendidikan singkat tentang perlindungan kekayaan intelektual dan model kontrak sederhana dengan developer.

Kolaborasi ini bisa memberikan dorongan permintaan yang lebih stabil dibandingkan jualan ritel musiman, namun mensyaratkan kesiapan administratif dan mutu produk. Pemangku kepentingan seperti asosiasi desain, dinas daerah, dan perbankan mikro berperan penting untuk menjembatani kebutuhan akses modal dan sertifikasi.

Apa Artinya untuk Bisnis anda?

Bagi pelaku kriya dan UMKM desa, sekarang waktunya menyiapkan portofolio digital dan kanal presentasi yang rapi — misalnya katalog produk, foto proses produksi, dan profil usaha — agar mudah ditawarkan ke developer atau lembaga keuangan. Memiliki website atau produk digital siap pakai yang menampilkan portofolio dan informasi kapasitas produksi akan mempercepat peluang kolaborasi dengan sektor properti dan perbankan.