Jakarta — Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif (Kemenekraf) menerima audiensi rumah produksi Keana Film pada 9 September 2026. Pertemuan ini fokus pada penguatan sinergi antara subsektor seni pertunjukan dan perfilman sebagai strategi hilirisasi kekayaan intelektual (IP) berbasis kebudayaan. Keana memaparkan rencana 2026–2027 yang mencakup pementasan, kongres, festival, dan rencana alih wahana IP.

Sinergi seni pertunjukan dan perfilman untuk nilai tambah IP lokal

Menurut bahan pertemuan, Keana Film menyampaikan program-program seperti Monolog Melati Pertiwi, Kongres Perempuan di Yogyakarta, dan festival CULTURA di TMII. Rumah produksi itu juga menargetkan pengembangan IP Laksamana Malahayati dari panggung pertunjukan ke bentuk komik dan film panjang, sebuah langkah yang merefleksikan tren mengkomersialkan karya kebudayaan lewat alih wahana.

Wakil Menteri Ekonomi Kreatif menekankan kebutuhan mencari model bisnis yang memungkinkan ekosistem kreatif tumbuh secara berkelanjutan dan efisien. Fokus pembahasan mencakup pemaduan konsep kreatif dengan mekanisme pendanaan, akses pasar, dan kolaborasi lintas subsektor — termasuk peluang keterlibatan investor untuk mendukung produksi yang hilirisasi IP-nya jelas.

Media yang melaporkan pertemuan menyebutkan bahwa diskusi lebih jauh menyorot potensi sekaligus tantangan hilirisasi: pengelolaan hak kekayaan intelektual, kualitas naskah/produksi saat beralih media, serta kesiapan rantai pasok UMKM lokal untuk terlibat dalam merchandise dan aktivitas komersial terkait IP.

Peluang bagi pelaku UMKM dan rumah produksi

  • Hilirisasi IP membuka jalur pendapatan baru—lisensi, merchandise, dan adaptasi media—yang dapat dimanfaatkan kreator dan pelaku usaha mikro hingga menengah.
  • Kolaborasi lintas subsektor (teater, film, penerbitan, merchandise) menuntut standar produksi dan tata kelola hak yang rapi untuk menarik investor dan mitra distribusi.
  • Penyelenggaraan festival dan kongres lokal berpotensi menjadi titik pemasaran bagi produk kreatif dan sarana uji pasar bagi ide alih wahana.

Dari sudut kebijakan, pertemuan ini mencerminkan peran aktif Kemenekraf mendorong komersialisasi kreativitas sebagai bagian dari upaya menciptakan nilai tambah ekonomi dan membuka lapangan kerja. Bagi rumah produksi, pendekatan yang digarisbawahi adalah pembangunan IP yang terencana—bukan hanya sekadar produksi—dengan peta hilirisasi yang jelas.

Hal yang perlu diperhatikan oleh pelaku usaha kreatif

  1. Perkuat kepemilikan dan perlindungan IP sebelum menawarkan lisensi atau kolaborasi.
  2. Rencanakan alih wahana secara bertahap dengan pilot project untuk menguji respons pasar dan model pendanaan.
  3. Bangun jaringan distribusi dan pemasaran digital untuk mendukung ekspansi IP ke luar kanal tradisional.
  4. Libatkan pelaku UMKM lokal lebih awal agar rantai nilai (merchandise, souvenir, food & beverage) siap saat acara atau peluncuran berlangsung.

Apa Artinya untuk Bisnis anda?

Pertemuan Kemenekraf–Keana Film menegaskan bahwa hilirisasi IP adalah peluang nyata untuk menambah aliran pendapatan dan memperluas pasar. Pelaku usaha kreatif sebaiknya menyiapkan aset digital dan kanal penjualan — misalnya katalog karya, etalase produk, dan halaman portofolio— agar ketika peluang kolaborasi atau lisensi muncul, struktur komersial dan pemasaran sudah siap. Memiliki website profesional atau produk digital siap pakai bisa membantu rumah produksi, kreator, dan UMKM lokal menampilkan IP, mengelola penawaran lisensi, dan menjangkau pembeli atau mitra distribusi lebih cepat.