Jakarta — Xendit bersama Cube meluncurkan "E-commerce Payments Momentum Report 2026" pada 15 Oktober 2026, menyorot pergeseran cepat preferensi pembayaran di Indonesia dan implikasinya bagi konversi penjualan pada platform e-commerce. Laporan ini menggabungkan data transaksi Xendit dengan survei 6.000 konsumen di enam negara Asia Tenggara (termasuk 1.000 responden di Indonesia) untuk memetakan tren metode pembayaran dan perilaku pembeli.
Pembayaran e-commerce: QRIS, e‑wallet, dan risiko kehilangan penjualan
Salah satu temuan utama adalah lonjakan penggunaan QRIS yang diproses melalui platform Xendit: naik 142% pada periode Januari 2025–April 2026. Pertumbuhan ini melampaui kenaikan transaksi kartu kredit pada periode sama. Di sisi lain, dompet digital tetap populer — laporan mencatat persentase konsumen Indonesia yang menggunakan e‑wallet untuk sebagian besar pembelian lebih tinggi dibanding negara lain di kawasan.
Namun temuan lain yang penting bagi pelaku bisnis adalah bahwa 51% konsumen Indonesia pernah membatalkan pembelian daring dalam tiga bulan terakhir karena metode pembayaran yang mereka inginkan tidak tersedia. Ini menunjukkan bahwa ketersediaan opsi pembayaran bukan sekadar fitur tambahan, melainkan faktor determinan konversi pada checkout.
Tren tambahan yang relevan bagi marketplace dan merchant: transfer bank masih memainkan peran besar (sekitar separuh dari total pembelian menurut survei), sementara penggunaan Cash on Delivery (COD) dilaporkan menurun tetapi tetap dipakai oleh sebagian pembeli (~40% dari kasus). Laporan juga menunjukkan konsumen makin memanfaatkan alat berbasis AI untuk menemukan dan membandingkan produk sebelum membeli, yang mengubah titik-titik keputusan dalam funnel belanja.
Apa Dampaknya bagi UMKM dan Pemain Marketplace?
- Risiko kehilangan penjualan: Jika opsi pembayaran yang populer tidak disediakan, penjual berisiko kehilangan transaksi yang sudah mendekati konversi.
- Prioritas integrasi pembayaran: Menyediakan kombinasi QRIS, e‑wallet, virtual account/transfer real‑time, dan kartu bisa menurunkan rasio pembatalan checkout.
- Segmentasi konsumen per metode: Preferensi metode pembayaran bisa berbeda menurut wilayah dan kategori produk; strategi pembayaran perlu disesuaikan.
- Peranan insentif: Diskon dan cashback tetap penggerak kuat pilihan metode; kebijakan harga dan insentif pembayaran perlu dihitung bersama biaya transaksi.
Secara praktis, bagi marketplace dan merchant berarti mempertimbangkan biaya versus manfaat setiap metode pembayaran—termasuk otomatisasi refund, notifikasi, dan proses settlement—karena kualitas pengalaman checkout sering kalah-timbangan pada keputusan pembelian.
Hal yang Perlu Diamati ke Depan
- Perkembangan interoperabilitas QR lintas negara di kawasan ASEAN yang membuka peluang pembayaran lintas batas.
- Dinamika persaingan dompet digital: tidak ada satu penyedia yang benar-benar dominan, sehingga integrasi multi‑wallet jadi relevan.
- Penerapan AI di pengalaman belanja: semakin banyak pembeli memakai AI sebagai alat riset dan rekomendasi, yang memengaruhi discovery dan konversi.
Apa Artinya untuk Bisnis anda?
Peristiwa ini menegaskan bahwa menyediakan berbagai opsi pembayaran adalah kebutuhan operasional bagi penjual online untuk menurunkan tingkat pembatalan checkout. Jika Anda mengelola toko atau marketplace, mempertimbangkan integrasi pembayaran yang mudah dipasang pada website dan memakai template atau komponen digital siap pakai dapat mempercepat adaptasi. Memiliki website yang sudah terhubung ke beberapa metode pembayaran membuat bisnis lebih siap merespons perubahan preferensi konsumen seperti yang dilaporkan Xendit–Cube.