Forbes Asia merilis edisi keenam daftar "100 to Watch" pada 24 Agustus 2026, sebuah kompilasi perusahaan kecil dan startup di kawasan Asia-Pasifik yang dinilai layak diperhatikan karena pertumbuhan dan inovasinya. Daftar tahun ini menyorot kuatnya gelombang perusahaan berbasis kecerdasan buatan (AI) dan sejumlah solusi berorientasi lingkungan.

Forbes Asia 100 to Watch: Delapan startup Indonesia masuk daftar

Menurut publikasi Forbes dan pemberitaan regional, Indonesia tercatat mengirimkan delapan perusahaan ke dalam daftar 100 itu — salah satu perwakilan terbanyak di kawasan. Forbes menyebutkan tema dominan pada daftar tahun ini adalah inovasi berbasis AI, sementara green tech dan robotics juga mendapat porsi perhatian yang signifikan.

Forbes menulis bahwa perusahaan-perusahaan terpilih pada keseluruhan daftar sudah mengumpulkan total pendanaan sekitar US$2,4 miliar hingga saat pengumpulan data, termasuk hampir US$1 miliar yang dihimpun sepanjang 2026. Keberadaan delapan perusahaan Indonesia pada daftar tersebut memberi sinyal bahwa ekosistem startup lokal masih mampu mencetak perusahaan yang dianggap relevan secara regional, terutama di segmen yang cepat berkembang seperti e-commerce niche, healthtech, dan solusi enterprise yang mengintegrasikan AI.

Nama perusahaan Indonesia yang disebut dalam pengumuman Forbes memperlihatkan ragam sektor usaha, dari consumer brands yang memperluas distribusi ritel hingga layanan kesehatan dan solusi B2B. Pencantuman ini biasanya diartikan sebagai pengakuan kualitas produk, model bisnis yang menarik, atau potensi skalabilitas yang dinilai redaksi Forbes dan panel penilai mereka.

Implikasi bagi ekosistem startup dan UMKM

  • Visibility dan peluang kemitraan: Masuknya startup Indonesia dalam daftar memberi peningkatan profil internasional, mempermudah proses pendekatan ke investor, mitra distribusi, dan klien korporat di luar negeri.
  • Tekanan untuk skala dan tata kelola: Pengakuan internasional meningkatkan ekspektasi pada transparansi laporan, tata kelola produk, dan kesiapan operasional ketika memasuki pasar baru.
  • Fokus teknologi: Karena daftar menyorot AI dan green tech, startup yang ingin memanfaatkan momentum ini perlu memperjelas proposisi nilai teknologi mereka—mis. bukti penggunaan AI yang berdampak pada efisiensi atau keberlanjutan.

Untuk investor dan korporasi, daftar semacam ini menjadi referensi cepat untuk menemukan kandidat perusahaan inovatif di berbagai negara Asia-Pasifik. Bagi UMKM yang belum bertransformasi digital, gelombang pengakuan pada startup lokal menggarisbawahi pentingnya adopsi teknologi sederhana yang dapat meningkatkan jangkauan pasar dan efisiensi operasional.

Apa yang perlu diperhatikan oleh pendiri dan pelaku usaha

  1. Jaga bukti pelanggan dan traction: dokumentasikan metrik penggunaan, pendapatan, dan testimoni klien.
  2. Perbaiki tata kelola data dan kepatuhan: khususnya bila produk menggunakan AI atau mengolah data konsumen lintas negara.
  3. Siapkan peta jalan komersialisasi yang jelas: investor regional mencari tim yang bukan hanya inovatif, tetapi juga dapat mengeksekusi ekspansi.
  4. Manfaatkan pengakuan untuk kemitraan strategis: gunakan momentum visibilitas untuk mempercepat kolaborasi B2B atau akses ke kanal distribusi.

Apa Artinya untuk Bisnis Anda?

Pengakuan internasional terhadap startup Indonesia — seperti yang tercermin di daftar Forbes Asia 100 to Watch — menunjukkan bahwa peluang pasar regional terbuka untuk produk dan layanan lokal. Untuk pelaku UMKM atau startup yang belum terdigitalisasi penuh, membangun website profesional dan menyiapkan materi digital (landing page produk, dokumentasi teknis, dan demo singkat) akan membantu memanfaatkan momentum publikasi dan mempermudah proses pitching ke calon mitra atau investor. Solusi digital siap pakai atau template yang rapi bisa mempercepat langkah ini sehingga bisnis Anda siap menanggapi peluang kolaborasi dan ekspansi.